Selasa, 11 September 2012

Kekayaan, Kesuksesan dan Kasih Sayang



gambar dari ceritakristen.org

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.

Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut". 

Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?" 

Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar". 

"Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suami mu kembali", kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini". 

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama", kata pria itu hampir bersamaan. 


"Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran. 

Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, dan "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu."

Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohho...menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si KEKAYAAN masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan."

Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si KESUKSESAN saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si KASIH-SAYANG yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang."

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si KASIH-SAYANG ini ke dalam. Dan malam ini, si KASIH-SAYANG menjadi teman santap malam kita." 

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."
Si KASIH-SAYANG bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho..ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. 

Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si KEKAYAAN dan si KESUKSESAN. "Aku hanya mengundang si KASIH-SAYANG yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu berdua ikut juga?" 

Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si KEKAYAAN, atau si KESUKSESAN, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si KASIH-SAYANG, maka, kemana pun Kasih-sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta.

Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si KASIH-SAYANG yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini." (wrno)

Jumat, 07 September 2012

Makna Stipendium atau Iura Stolae Saat Misa



Sejarah kebiasaan memberi stipendium pada Misa sudah lama dipraktekkan dalam Gereja, bahkan usianya sejak kehidupan Gereja itu sendiri. Meskipun nama dan penafsirannya berubah-ubah selaras dengan perkembangan jaman, tetapi intinya tetap sama yakni bahwa stipendium Misa adalah persembahan dari umat sebagai ungkapan pemberian diri umat kepada Gereja.

Menelusuri makna stipendium, baik KHK tahun 1917 dan KHK tahun 1983 menggunakan kata yang sama meskipun konteksnya berbeda. Dalam kodeks KHK 1917, berbicara tentang stipendium diberi judul: de oblate ad Missae celebrationem stipe, sedangkan kodeks KHK 1983 dengan judul lebih singkat stipendium Missae. Kata stipendium dalam KHK 1917, berasal dari kata Latin stips (stipis) yang berarti derma, sedekah, gaji, dan dari kata pendare berarti membayar derma atau gaji. Berbeda dengan KHK 1983, kata stips digabungkan dengan kata kerja offere yang berarti menghaturkan, memberi, mempersembahkan. Paduan kata stips dan offere berarti memberi derma. Dengan demikian makna kata stipendium dalam kodeks 1983 mempunyai arti baru lebih bernuansa rohani/spiritual bila dibandingkan dengan kodeks yang lama.

Seperti yang dikutip dari situs katolisitas, istilah yang lazim digunakan dalam kodeks (KHK, 1983) yang dimaksudkan dengan stips (stipendium) adalah: sumbangan sukarela umat beriman dalam bentuk uang kepada seorang imam dengan permintaan agar dirayakan satu atau sejumlah Misa untuk ujud/intensi dari penderma. Stips merupakan balas jasa dari penghargaan suka rela bagi sang imam yang telah melayani suatu kebutuhan umat beriman. Tapi bukan kewajiban umat dan imam pun tidak berhak menuntut.

Sedangkan Iura stolae adalah: sumbangan umat beriman kepada seorang imam yang melaksanakan perayaan sakramen (misalnya: baptis, perkawinan) atau melakukan suatu pelayanan pastoral lainnya seperti pemberkatan rumah. Namun karena sudah “salah kaprah” kedua pengertian tersebut disamakan saja, sehingga istilah tersebut juga lazim disebut stipendium. Perlu diperjelas lagi bagi kita pemahaman tentang stipendium maupun iura stolae adalah berbeda dengan persembahan (oblationes) dan derma (alms. donation), kolekte (collection).

Namun, imam janganlah memiliki semangat untuk mencari stipendium sampai melupakan tugas pelayanan kepada umat. Demikian juga imam hendaknya melayani semua orang dalam merayakan ekaristi meskipun tanpa stips (stipendium). Hal itu ditegaskan dalam kanon 945, § 2: “Sangat dianjurkan agar para imam merayakan misa untuk intensi umat beriman kristiani, terutama yang miskin, juga tanpa menerima stips”. Kerap kita mendengar keluhan umat bahwa ada imam yang tidak rela melayani umat tertentu karena secara ekonomis kelihatan tidak mampu memberi stipendium. Hal ini sangat bertentangan dengan semangat hidup seorang imam yang dipanggil oleh Tuhan menjadi imam untuk melayani umat-Nya.

Menurut sumber dari katolisitas.org, tujuan orang memberi derma dalam bentuk stipendium adalah bagi kesejahteraan Gereja dan penghidupan para pelayannya. Selain itu, umat diajak untuk bertanggungjawab secara ekonomis atas perkembangan hidup Gereja dan para pelayanannya. Kanon 946 menyatakan: “Umat beriman kristiani, dengan menghaturkan stips agar misa diaplikasikan bagi intensinya, membantu kesejahteraan Gereja dan dengan persembahan itu berpartisipasi dalam usaha Gereja mendukung para pelayan dan karyanya”.
(red)

Minggu, 02 September 2012

Apa itu Sakramen Krisma ?

Sakramen berasal dari kata ‘mysterion’ (Yunani), yang dijabarkan dengan kata ‘mysterium’ dan ‘sacramentum’ (Latin). Jadi sakramen-sakramen Gereja merupakan tanda yang kelihatan dari rahasia/ misteri Kristus -yang tak kelihatan- yang bekerja di dalam Gereja-Nya oleh kuasa Roh Kudus. Betapa nyatanya ‘rahasia’ ini diungkapkan di dalam sakramen-sakramen Gereja, terutama di dalam Ekaristi.

Dikutip dari imankatolik.or.id,  Sakramen Krisma adalah salah satu dari tiga sakramen inisiasi yaitu Baptis, Krisma dan Ekaristi. Sakramen Krisma memiliki dasar Kitab Suci dari Kis 8:16-17 "Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.

Seperti yang dilansir dari indocell.net, dalam Sakramen Baptis, kita disambut dalam persekutuan dengan Kristus. Dalam Sakramen Penguatan, kita disambut dalam persekutuan dengan suatu komunitas, yaitu Gereja Katolik.
Sedangkan, informasi yang didapat dari wikipedia, Sakramen Krisma atau yang disebut dengan sakramen penguatan adalah sakramen ketiga dalam inisiasi Kristiani. Sakramen ini diberikan dengan cara mengurapi penerimanya dengan Krisma, minyak yang telah dicampur sejenis balsam, yang memberinya aroma khas, disertai doa khusus yang menunjukkan bahwa, baik dalam variasi Barat maupun Timurnya, karunia Roh Kudus menandai si penerima seperti sebuah meterai. Melalui sakramen ini, rahmat yang diberikan dalam pembaptisan "diperkuat dan diperdalam". 

Berdasar dokumen gereja Kitab Hukum Kanonik 880 ayat 1, Sakramen penguatan diberikan dengan pengurapan krisma pada dahi, yang hendaknya dilakukan dengan penumpangan tangan serta dengan kata-kata yang diperintahkan dalam buku-buku liturgi yang telah disetujui. Kitab Hukum Kanonik 880 ayat 2, Krisma yang dipergunakan dalam sakramen penguatan haruslah dikonsekrasi oleh Uskup, meskipun sakramen diberikan oleh seorang imam.
Di kebanyakan Gereja Katolik, seorang Uskup-lah yang memberikan isyarat penyambutan itu. Perkecualian terjadi apabila calon penerima sakramen adalah orang dewasa yang baru masuk Katolik. Maka, imam pembimbing yang menerimakan Sakramen Penguatan. Bapa Uskup atau imam menyatakan sambutannya dengan isyarat tangan yang artinya “kami menghormatimu, kami menyambutmu dalam keluarga Katolik.”

Dalam inisiasi sebagai seorang Kristen, pengurapan adalah tanda sakramen dari pernyataan Setuju (Konfirmasi), disebut “peng-Khrisma-an” di Gereja Gereja di Timur. Makna dan Kekuatan Sesungguhnya hanya bisa didapat bila dipersatukan dengan pengurapan yang dilakukan oleh Roh Kudus, oleh Yesus. Krisus (dalam bahasa Yahudi “Mesias”) berarti Dia “Yang Diurapi” oleh Roh Kudus. – Katekismus Gereja Katolik. (jff/ric)

Senin, 13 Agustus 2012

Keragaman Agama Indonesia Melalui Konser Musik




Dari kanan Candra Malik bersama Penarinya Sufi di Rotunda V-Walk Ciputra Word                       



















             
         Album perdana Kidung Sufi Candra Malik berjudul samudera cinta adalah perayaan dari keberagaman yang ada di bangsa ini. Dengan maestro musik tanah air,dan musisi-musisi pendukung dari aneka jenis musik muali klasik,rock hingga hip hop,candra malik mengidungkan indahnya keberagaman yang penuh cinta.Maka ayat-ayat yang dikidungkan telah di balut Candra Malik dengan universal dalam ucapan cinta dan kesederhanaan kalimat rindu serta dialih bahasakan menjadi lirik-lirik dalam bahasa ibu.       
     Pada jumat 10 Agustus 2012 suasana tampak berbeda sekali di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus (HKY) di Jalan Polisi Istimewa Surabaya ketika kedatangan Candra Malik dan kelompoknya terutama kelompok tarian Sufi. Ketika itu tari Sufi dan Candra Malik menyanyikan lagu Ave Maria di hadapan para umat Paroki Hati Kudus Yesus yang sedang beribadat dengan tepuk tangan yang meriah.
     Setelah paginya tampil memukau di Gereja Katedral Surabaya kelompok Candra Malik dan kidung Sufi juga tampil di Rotunda V-Walk Ciputra Word Surabaya. Di tempat pusat belanja itu mereka menyanyikan lagunya diantaranya seluruh nafas,samudera debu dan fana selamanya dengan berduet dengan Trie Utami.Karena pesan yang kami buat ini tentang pluralisme maka konser yang kami garap dalam nuansa Islami maka kami mengajak paduan suara Cantate Domino Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.Candra malik berkata konser mini ini merupakan acara perayaan dari keragaman agama yang ada di bangsa ini.Inilah sebuah pesan yang dapat kita ambil yaitu”Toleransi yang melebur dan menghibur dalam bahasa musik,”katanya.
     Menurut Candra Malik ketika datang di Gereja itu di sambut baik oleh Romo Agustinus Tri Budi Utomo selaku Vikjen keuskupan Surabaya dan para umat yang sedang beribadat.Beliau juga berkata bahwa acara ini merupakan bentuk untuk saling menghormati antaragama dan sekaligus saling mengenal perbedaan.”Meskipun berbeda tetapi tetap damai,”ujarnya.
     Menurut Romo Agustinus Tri Budi Utomo acara ini sangat bagus sekali dan sanagt praktis membangun budaya bangsa ,melalui musik kita memiliki rasa cinta yang sangat strategis yang bisa menghilangkan perbedaan dan akan menimbulkan sebuah kedamian.
Romo Agustinus Tri Budi Utomo yang sering kita panggil dengan nama Tri Budi Utomo ini juga berharap kepada seksi Hak yang ada di paroki-paroki keuskupan surabaya jika ingin mengadakan acara yang mengundang tokoh agama hanya dengan seminar saja,talk show atau sekedar dialog,kalau bisa dibuat yang lain seperti konser musik dengan mengundang semua tokoh agama untuk mengerjakan sesuatu sehingga akan tercipta kerukunan agama uajrnya.
Pada kesempatan ini pula Trie utami juga berkata konser ini semuanya bukan muslim tetapi berbagai macam agama ada sehingga kita semua bisa bersatu dan menciptakan semuah kata harmoni. Jika harmoni ini tidak ada tidak mungkin kita bisa bersatu pada malam ini. Trie Utami menambahkan jika kita bersatu maka energi yang ada dapat membangkitkan energi yang baru dalam kehidupan kita sehari-hari .
Theresia Rosalinda yang salah satu kelompok paduan suara Cantate Domino Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya berkata sangat senang sekali dan bangga bisa berkolaborasi dengan Candra Malik dan Kiai Menur dalam acara keragaman agama.
    Theresia Rosalinda menambahkan sebagai uamt katolik atau umat kristiani sangat bangga sekali bisa menyanyikan lagu religi yang bernuansa Islami, apa lagi pluralismenya sangat terasa sekali ketika kita berada bersama Candra Malik dan penarinya Sufi ,maka kerukunan beragamanya terasa juga.(jff)

Jumat, 27 Juli 2012

Tata Gerak Tubuh dalam Liturgi

Tata gerak tubuh dalam Liturgi menjadi simbol liturgis yang penting. Dalam hal ini ada aneka macam tata gerak tubuh: berkumpul, berjalan, berarakan, berdiri, duduk, bersila, berlutut dan membungkuk, menunduk, menengadah, tangan terkatup, tangan terangkat dan tangan terentang, penumpangan tangan, pembasuhan tangan, jabatan tangan, mencium atau mengecup, tanda salib dan berkat, menebah dada, memerciki, mendupai, meniarap.
Semua tindakan ini memiliki makna liturgis dan melambangkan sesuatu dalam rangka pengungkapan peristiwa perjumpaan Allah dan manusia dalam liturgi.

1.    Berkumpul
Berkat pembaptisan kita dijadikan satu keluarga dalam Gereja yang kudus. Orang Kristiani adalah pribadi yang komuniter, selalu terpaut dalam kebersamaan. Kita tidak sendirian. Dalam nama Bapa dan Putera, kita juga dipersatukan oleh Roh Kudus. Itu tampak ketika kita berkumpul, khususnya dalam “tempat kudus.” Kita berkumpul sebagai orang-orang pilihan, yang terpanggil, yang dicintai Allah.
Liturgi mengundang kita untuk menemukan kembali panggilan kita, yakni tumbuh dalam kesatuan, menjadi umat Allah, berkarya dengan dan bagi saudara-saudari dalam perayaan yang dinamis. Maka, berkumpul adalah bagian dari tata gerak kolektif. Agar pertemuan itu tidak kacau, tidak anarkis, tetap utuh, maka diperlukanlah keyakinan dan sikap yang sama. Di sinilah letak pentingnya suatu pedoman atau aturan bersama. Kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi, suatu perayaan bersama yang bukan tanpa aturan.
Selain itu, berkumpul juga menjadi tanda kehadiran Kristus sendiri, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

2.    Berdiri
Berdiri merupakan simbol gerakan tubuh yang penting dalam liturgi. Berdiri merupakan tindakan liturgis yang mengungkapkan perhatian, kepedulian, penghormatan, dan kesiapsediaan terhadap kehadiran Tuhan, baik melalui diri pemimpin ibadat maupun dalam Sabda dan Doa.
Misalnya, umat berdiri ketika imam dan para pelayannya masuk ke tempat ibadah; kita berdiri pada saat mendengarkan Injil dan mendoakan syahadat iman maupun Bapa Kami.
Berdiri juga merupakan sikap dasar liturgis yang sejak kuno melambangkan situasi dan keberadaan orang-orang Kristiani sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan oleh Kristus.

3.    Berjalan
Kita tahu, bahwa berjalan merupakan bentuk gerakan manusia yang amat elementer. Demikian pula dalam liturgi, berjalan juga menjadi simbol liturgis yang elementer. Namun, berjalan yang dipakai dalam liturgi bukanlah berjalan asal-asalan (misalnya: seperti orang mabuk atau jalan cepat), melainkan berjalan dalam arti ritmis/teratur, dengan badan dan kepala tegak, tenang dan agung simbolis. Berjalan dengan tubuh dan kepala tegak memang pada umumnya merupakan ungkapan simbolis dari manusia yang bermartabat dan berwibawa.
Secara liturgis berjalan sebenarnya mau mengungkapkan hakikat umat Allah yang sedang berziarah dan bergerak menuju tanah surgawi, tanah air sejati. Apabila dalam perayaan liturgi, tindakan berjalan  ini biasa dilakukan bersama-sama dalam suatu prosesi, entah prosesi atau perarakan masuk, perarakan persembahan ataupun perarakan penutup dalam liturgi Ekaristi, ataupun dalam prosesi liturgi lain. Dengan prosesi itu, semakin tampaklah dimensi kebersamaan umat Allah yang sedang berziarah itu.
Berjalan juga bisa dipahami sebagai ungkapan kesiapsediaan kita untuk secara aktif menyambut dan menanggapi tawaran kasih karunia Allah yang selalu ada di depan kita.

4.    Perarakan
Perarakan imam, asisten imam, misdinar pada hari-hari biasa bergerak dari sakristi langsung menuju altar. Setelah selesai perayaan Ekaristi keluar melalui jalan yang sama. Pada hari Raya, perarakan dari sakristi melewati lorong tengah umat menuju altar.
Urutan perarakan, misdinar paling depan, disusul oleh asisten imam dan imam (terakhir). Perarakan masuk biasanya diiringi lagu pembuka, dimana umat menyambut dengan berdiri.
Maksud dari lagu pembukaan adalah untuk mengarahkan perhatian umat kepada perayaan yang mulai berlangsung, memeriahkan upacara suci, menciptakan kebersamaan.
Perarakan biasanya juga dilakukan oleh beberapa wakil umat untuk mengantarkan persembahan berupa: roti, anggur, lilin, bunga dan kolekte ke altar. Segala hasil karya umat hendak disatukan dengan kurban Krsitus dalam Ekaristi. Inilah bukti keterlibatan aktif umat dalam merayakan Ekaristi.

5.    Membungkuk
Membungkuk melambangkan sikap merendahkan diri dan menyadari kekecilan dan kekerdilan di hadapan Yang Lebih Besar, yakni Tuhan, tanda penghormatan (kepada Allah, altar dan tabernakel), rasa widi asih dan kerendahan hati.  
Imam dan para petugas melakukan penghormatan dengan membungkuk terhadap altar Tuhan.

6.    Mengecup
Mengecup dilakukan oleh imam sebelum memakai pakaian liturgi, misalnya alba, amik, stola, kasula dll, maknanya adalah ungkapan rasa hormat terhadap “barang-barang suci”.
Mengecup juga dilakukan oleh imam pada meja altar, sebelum dan sesudah perayaan Ekaristi, maksudnya memberi penghormatan terhadap meja altar sebagai meja perjamuan Tuhan dan untuk menghormati Allah ditengah-tengah umat-Nya.
Mengecup juga dilakukan oleh umat, pada peringatan Jumat Agung, dimana semua umat yang ikut didalam ibadat tersebut mendapat kesempatan mengecup salib, tepatnya mengecup luka pada kaki Yesus. Dimana kita diajak untuk melakukan penghormatan bagi Yesus Kristus yang wafat disalib.

7.    Mendupai
Maksud dari pendupaan ini adalah untuk menciptakan suasana doa dan kurban bagi Allah.  Pendupaan altar bergerak dari bagian kiri ke kanan mengelilingi altar. Asap putih yang mengepul keatas sekan melambangkan persembahan kita diterima oleh Allah.

8.    Membuat ‘Tanda Salib’
Tanda salib dibuat ketika : 
· Memasuki gereja sambil menandai diri dengan air suci yang ada di samping pintu masuk gereja sebagai tanda peringatan pembaptisan yang telah kita terima.
  ·  Mengawali dan mengakhiri Perayaan Ekaristi
 · Menerima percikan air suci kalau dibuat sebagai Tanda Pernyataan Tobat. Tanda tersebut mengungkapkan kesadaran kita sebagai anak-anak Allah dan kesetiaan pada janji Baptis.
  ·  Memulai bacaan injil dengan membuat tanda salib pada dahi, mulut dan dada untuk mengungkapkan hasrat agar budi diterangi, mulut disanggupkan untuk mewartakan, dan hati diresapi oleh sabda Tuhan.
·   Menerima berkat perutusan pada bagian Ritus Penutup

9.    Memerciki
·   Sebagai tanda penyucian dan peringatan akan pembaptisan kita.
·   Memerciki dilakukan pada permulaan Ekaristi (kadang-kadang masih ada imam yang melakukannya).
·   Dan juga dilakukan setelah pembaharuan janji baptis pada Malam Paskah, saat menerima daun Palma pada perarakan Minggu Palma.
·   Memerciki juga dilakukan untuk kepentingan pernikahan, pemakaman, pemberkatan tempat/gedung, pemberkatan benda-benda devosi lainnya.

10. Menundukkan Kepala
Sikap hormat ini sebagai tanda penghormatan. Menundukan kepala dilakukan oleh: Imam ketika mengucapkan kata Yesus, Santa Perawan Maria dan santo santa yang diperingati pada hari itu. Menundukan kepala dilakukan:
·   Oleh Imam sebelum dan sesudah mendupai salib, altar dan bahan persembahan.
·   Oleh misdinar sebelum dan sesudah mendupai imam dan umat.
·   Oleh lektor atau petugas lainnya yang akan menuju altar untuk menghormati altar Tuhan dan Imam.

11. Menegadahkan Kepala
Sebagai sikap doa yang mengungkapkan permohonan dengan kebulatan hati.
Menegadahkan kepala dilakukan oleh imam ketika mempersembahkan roti dan anggur serta dilakukan oleh umat ketika berdoa pribadi di hadapan Yesus atau Bunda Maria dengan kebulatan hati untuk memohon.

12. Berlutut
Berlutut merupakan sikap doa yang mengungkapkan kerendahan hati seseorang yang ingin memohon kepada Tuhan atau bersembah sujud kepada-Nya. Berlutut dilakukan:
·   Oleh Umat ketika berdoa pribadi pada saat mengawali dan mengakhiri Ekaristi, saat konsekrasi, serta sebelum dan sesudah komuni sebagai sikap sembah sujud untuk hormat kepada Allah.
·   Oleh Umat ketika mengucapkan Doa Tobat untuk menunjukan sikap kerendahan hati dan permohonan ampun.
·   Oleh Imam ketika mendoakan kisah Institusi (Kisah Perjamuan Tuhan) dalam Doa Syukur Agung, termasuk didalamnya kata-kata konsekrasi, sebagai tanda hormat dan pujian oleh umat di hadapan Sakramen Mahakudus atau Tarbernakel
·   Oleh Imam dan Umat untuk merenungkan wafat Tuhan Yesus pada saat pembacaan Kisah Sengsara pada hari raya Jumat Agung.